tumpek wayang 2023
Merayakan Tumpek Wayang bagi warga SMK Negeri 3 Singaraja, adalah sebagai desain penyadaran diri dalam kemajemukan, utamanya dengan menyadari bahwa dalam kehidupan di masyarakat ada berbagai karakter yang dilambangkan dengan kanan dan kiri. Dalam filosofinya, tokoh wayang diletakkan di kanan dan kiri dalang. Masing-masing kelompok itu merepresentasikan suatu sifat atau karakter. Kelompok di sebelah kanan dalang adalah kumpulan wayang dengan karakter baik, halus, suci, agamawan, bijak, dan sejenisnya. Di sisi lain, di sisi kiri dalang kelompok wayang dengan karakter buruk, raksas, jahat, buas, rakus, biadab, dan sejenisnya.
Filosofi inilah yang menjadi penguat bahwa dalam kehidupan, setiap insan harus menyadari karakter-karakter yang perlu dikembangkan dan perlu dipadamkan dalam dirinya sehingga mampu memberi kehidupan yang lebih bahagia.
Tumpek Wayang adalah Puja Walinya Sang Hyang Iswara yang dirayakan setiap hari Sabtu atau Saniscara Kliwon wuku Wayang. Untuk itu, beberapa hari sebelumnya mata pelajaran Agama Hindu dan Bahasa Bali berkolaborasi merancang pembelajaran PjBL. Pembelajaran Berbasis Proyek atau Project Based Learning (PjBL) adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi tentang sarana upacara yang diperlukan dalam perayaan Tumpek Wayang. Selanjutnya, peserta didik melakukan penilaian tentang bahan-bahan yang mungkin bisa dipersiapkan/dibuat. Mereka akan melakukan interpretasi atau menafsirkan berapa bahan dan waktu yang diperlukan untuk mengerjakannya, hingga mereka melakukan sisntesis, yakni menyatukan dua atau lebih sarana persembahyangan menjadi satu kesatuan, baik melalui desain atau proses alami dalam metanding. Mereka mengelola informasi untuk menghasilkan sarana yang siap dipersembahyangkan pada Tumpek Landep. Dengan menganut pendekatan yang kontekstual dan kolaboratif ini, PjBL bukan hanya menghasilkan produk berupa banten, melainkan wujud bhakti peserta didik dalam persembahyangan.
Merayakan Tumpek Wayang bagi warga SMK Negeri 3 Singaraja, adalah sebagai desain penyadaran diri dalam kemajemukan, utamanya dengan menyadari bahwa dalam kehidupan di masyarakat ada berbagai karakter yang dilambangkan dengan kanan dan kiri. Dalam filosofinya, tokoh wayang diletakkan di kanan dan kiri dalang. Masing-masing kelompok itu merepresentasikan suatu sifat atau karakter. Kelompok di sebelah kanan dalang adalah kumpulan wayang dengan karakter baik, halus, suci, agamawan, bijak, dan sejenisnya. Di sisi lain, di sisi kiri dalang kelompok wayang dengan karakter buruk, raksas, jahat, buas, rakus, biadab, dan sejenisnya.
Filosofi inilah yang menjadi penguat bahwa dalam kehidupan, setiap insan harus menyadari karakter-karakter yang perlu dikembangkan dan perlu dipadamkan dalam dirinya sehingga mampu memberi kehidupan yang lebih bahagia.
Komentar
Posting Komentar